Pekalongan hanya berjarak sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta dengan kereta api sekarang. Dengan telah dioperasikannya jalur ganda di pantura, akses para pedagang batik dan perniagaan produk batik pun kian lancar. Meskipun jumlahnya belum dapat dipastikan, sejumlah wisatawan maupun pelancong telah turut menikmati kemudahan itu untuk jalan-jalan ke Pekalongan sekalian berburu batik.

Salah satu kampung batik di tengah kota Pekalongan adalah Kampung Kauman. Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan kampung ini menjadi kampung batik dan tujuan wisata belanja selain di Setono. Kampung batik ini diresmikan pada 1 September 2007 bersamaan dengan Pekan Batik Internasional.

Kampung Kauman merupakan sentra produksi kain encim dan buketan, batik khas Pekalongan, dengan  fokus menggunakan pewarna alam. Untuk produk yang dijual massal lebih banyak menggunakan pewarna sintetis.

Batik pesisir pekalongan dipengaruhi unsur-unsur budaya Belanda, Jepang, Cina, dan Arab/India. Motif buketan, ciri khas batik pekalongan, berasal dari kata bouquet artinya rangkaian bunga. Motif-motif lainnya ada motif Belanda terwakili dalam motif Cinderella, kapal-kapal Belanda, dan bunga-bunga tulip. Batik jawa hokokai muncul semasa penjajahan Jepang. Pada masa itu sulit mencari kain sehingga memunculkan motif pagi-sore, yakni dua motif dalam selembar kain yang memungkinkan pemakainya seolah-olah mengenakan kain berbeda-beda. Kain sarung encim digunakan oleh keturunan Tionghoa dengan motif-motif meniru ukiran-ukiran di meja sembahyang dan keramik. Pengaruh Arab/India terlihat dalam motif cap jlamprang.

Adapun yang disebut batik tiga negeri, menurut salah satu cerita sejarah yang dipercaya, pernah tinggal seorang Belanda di Kauman, Pekalongan. Saat itu dia membuat batik. Di Pekalongan dia sudah mendapat warna biru, untuk mendapat warna lainnya dia pergi ke Lasem untuk warna merah dan ke Solo untuk warna sogan/coklat.

“Kain encim yang dikenakan di Singapura dan Thailand sebenarnya batik khas Pekalongan,” ujar M.Hisyam Diputra, salah seorang generasi kedua penerus usaha batik keluarga Griya Batik MAS di Kampung Kauman. Kain analis yang dikenakan di Thailand bagian selatan dan di Singapura diproduksi di Pekalongan.

Paket belajar membatik

“Awalnya tidak khusus buat paket, tapi karena permintaan terus berdatangan akhirnya dilayani juga. Ya, sudah kita putuskan membuat paket-paketnya. Kami sudah membuat dan menjual paket sejak tahun 2010. Sudah ada paket standar namun itu bisa disesuaikan dengan bujet klien. Sampai sekarang kami belum mengadakan kerja sama dengan biro perjalanan atau operator tur tertentu. Kami mengikuti yang ada di Solo dan Yogya, menjual paket yang sama melalui webiste. Kami sudah membuat kartu anggota, ada yang untuk pelanggan dan ada yang untuk travel agent/tour operator,” Hisyam menerangkan.

M.Hisyam Diputra,pengelola Griya Batik Mas.Di tempatnya,selain menjual bahan batik,produk busana siap pakai,konsumen juga bisa meminta dibuatkan pola sampai dijahitkan menjadi baju siap pakai.(Foto:YD)

M.Hisyam Diputra,pengelola Griya Batik Mas.Di tempatnya,selain menjual bahan batik,produk busana siap pakai,konsumen juga bisa meminta dibuatkan pola sampai dijahitkan menjadi baju siap pakai.(Foto:YD)

Griya Batik MAS yang dikelola bersama kedua adiknya menawarkan paket belajar batik 5 hari, 4 hari, dan 3 hari. Semuanya bisa dikostumisasikan. Paketnya sudah termasuk menginap di hotel, konsumsi, belajar, kunjungan ke museum dan keliling kampung batik.

Paket belajar batik selama 5 hari 4 malam paling diminati. Hari pertama pembekalan materi. Hari kedua, ketiga dan keempat praktik. Ini mulai dari persiapan kain, untuk batik tulis digambar dan batik cap dicuci dahulu, setelah itu ditulis atau dicap, pewarnaan, pembatikan sampai pengikatan dan proses akhir atau plorotan.

Peminatnya rata-rata satu kelompok terdiri dari 20 orang yang akan dibagi dalam dua kelompok dan melakukan kegiatannya secara bergilir. Tak jarang peserta minta diajari membuat pola baju batik. Hari terakhir mengunjungi museum dan santap siang di pantai.

Hisyam mengakui tamu-tamunya masih didominasi wisnus. Tamu-tamu berkewarganegaraan Jepang dan Belanda selain ingin belajar membatik juga ingin mengetahui lebih jauh mengenai Kampung Kauman. Ini terkait dengan kain batik belanda dan hokokai.

Hisyam bersaudara sedang memodifikasi mobil golf menjadi mobil wisata. “Tamu-tamu kami biasanya datang dengan bis. Parkir di depan gang dekat alun-alun. Terus ke sini dengan becak-becak di kampung yang sudah dihias dengan gambar batik,” lanjutnya.

UNESCO Creative Network

Kreasi motif batik dari pakem motif pekalongan mengantarkan Pekalongan sejajar dengan 60 kota kreatif lain di dunia. (Foto:YD)

Kreasi motif batik dari pakem motif pekalongan mengantarkan Pekalongan sejajar dengan 68 kota kreatif lain di dunia. (Foto:YD)

Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, pada 1 Desember 2014 mengumumkan 28 kota dari 19 negara bergabung menjadi anggota baru dari UNESCO Creative Cities Network. Total yang tergabung dalam jaringan kreatif ada 69 kota di seluruh dunia. Jaringan ini bertujuan mendorong kerja sama internasional antarkota untuk berkomitmen dan berinvestasi pada kreativitas sebagai pendorong pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, inklusi sosial dan meningkatkan pengaruh budaya di dunia. Pekalongan diakui kekreatifitasannya dalam bidang Kerajinan dan Seni Tradisional.

“UNESCO Creative Cities Network adalah alat yang luar biasa untuk kerja sama, hal ini mencerminkan komitmen kami mendukung potensi kreatif dan inovatif yang luar biasa untuk memperluas jalan pembangunan berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova.

Dengan tergabung dalam jaringan kota kreatif, kota akan berkomitmen bekerja sama dan membangun kemitraan dengan tujuan untuk mempromosikan kreativitas dan industri budaya, berbagi praktik-praktik terbaik, memperkuat partisipasi dalam kehidupan budaya, dan mengintegrasikan budaya dalam rencana pembangunan ekonomi dan sosial.

Jaringan tersebut meliputi: kerajinan dan seni tradisional, desain, film, gastronomy, sastra, media seni dan musik. Tujuannya meningkatkan kerja sama internasional dan mendorong pertukaran pengalaman dan sumber daya dalam rangka mempromosikan pembangunan daerah melalui budaya dan kreativitas.

Pertemuan berikutnya dari Creative City Network dijadwalkan pada bulan Mei 2015 di Kanazawa, Jepang. *** (Yun Damayanti)