Di Pulau Merah, Banyuwangi. Daerah-daerah yang ingin menjadi destinasi sungguh harus meningkatkan kualitas kebersihan dan kerapihan. (Foto:Ist)

Di Pulau Merah, Banyuwangi. Daerah-daerah yang ingin menjadi destinasi sungguh harus meningkatkan kualitas kebersihan dan kerapihan. (Foto:Ist)

 Jessica Festa menulis “Notes On Traveling Responsibly (And Looking Toward The Industry’s Future)” yang dipublikasikan di epicureandculture.com dan ecotourism.org. Menarik, bahwa perjalanan bukannya tidak pernah tidak berubah. Suatu perjalanan bisa menciptakan industri yang akan memberikan keuntungan secara kultural, ekonomi dan lingkungan kepada komunitas lokal. Pariwisata berkelanjutan berarti mendorong wisatawan dan destinasi wisata untuk bertanggung jawab atas aktivitas-aktivitasnya terhadap konservasi lingkungan, kebudayaan dan mikro ekonomi. Mengimplementasikan perjalanan yang bertanggung jawab adalah cara terbaik untuk mewujudkannya.

Wisatawan kini mulai bosan dengan tur di dalam bis dan tinggal di resor-resor liburan yang besar. Mereka menginginkan tinggal di tempat penginapan B & B atau hostel kecil dengan suasana rumahan, terlibat dalam kegiatan fisik lebih banyak, mencoba pengalaman budaya lokal melalui makanan dan musik, dan semua kegiatan yang akan berkelanjutan dan bukan hanya bisa dinikmati sesaat.

Wisatawan juga semakin menuntut pengalaman otentik bersama komunitas lokal tanpa mengeksploitasi kebudayaan setempat maupun merusak lingkungannya. Jessica percaya semakin banyak orang memutuskan  dan memilih perjalanan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan maka industri perjalanan dan pariwisata akan benar-benar berdampak positif bagi kehidupan semua orang.

Semua orang bisa mengambil keuntungan dari pariwisata termasuk para wisatawan. Itulah mengapa kini diperlukan edukasi perjalanan yang bertanggung jawab. Meskipun pada kenyataannya, masih ada jurang lebar antara betapa pentingnya mengedukasi wisatawan dan bagaimana wisatawan sebenarnya mempunyai kesempatan diedukasi mengenai perjalanan yang bertanggung jawab.

     “We often talk about the government’s responsibility and the industry’s responsibility, but we often don’t talk about the traveler’s responsibility – each of us is responsible for our actions, and we can actually make a difference if we take that stance”  ujar Sandra Carvao, Chief Communications and Publications UNWTO.

Media perjalanan, blogger, penulis perjalanan, fasilitator komunikasi dan penulis konten dapat menjangkau wisatawan lokal dan global. Posisi mereka sangat penting untuk membantu mengedukasi melakukan perjalanan bertanggung jawab sebab mereka telah dipercaya oleh wisatawan. Keterlibatan mereka dalam upaya ini juga dibutuhkan oleh industri perjalanan yang membutuhkan dukungan lebih dari para ahli pencerita perjalanan yang sudah diakui efektif menginspirasi para wisatawan dan mempengaruhi keputusannya. Industri pariwisata dan pemerintah juga bisa turut serta mendukung atau menjadi mitra menggalakan upaya penyebaran perjalanan yang bertanggung jawab.

Resolusi perjalanan di tahun 2015 bukan lagi mengenai rencana destinasi mana yang akan dikunjungi, tetapi juga sejauh mana mempertanggungjawabkan perjalanan yang kita lakukan terhadap destinasi dan masyarakatnya.

Selain memilih destinasi, merencanakan anggaran (cost) mengambil porsi cukup besar ketika kita merencanakan dan menentukan perjalanan. Kita, pejalan – wisatawan, pelancong, pejalan bisnis – akan memperhatikan betul berapa nilai yang akan diperoleh dari besaran biaya yang dikeluarkan. Nilai itu bisa berupa waktu, pelayanan, pengalaman, kenangan dan seterusnya.

   Sekarang mai kita tengok kecenderungan-kecenderungan atas pengalaman kita sendiri. Pada saat mengunjungi sebuah obyek wisata, kita mengagumi keindahannya, kebersihannya, kemegahannya dst. Namun itu mulai terusik saat kita membuka perbekalan atau memesan makanan di obyek wisata. Hanya karena telah membayar tiket masuk ke obyek wisata, ketika tidak melihat tempat untuk menaruh sampah di sekitar, kita merasa mempunyai hak untuk meninggalkan sisa-sisa pembungkus makanan dan minuman begitu saja. Berpikir, “Nanti juga ada yang membersihkannya”. Dan saking terpesonanya, ada diantara kita merasa perlu memberi penanda pernah berkunjung ke tempat tersebut dengan spidol, cat, pisau lipat di bebatuan, batang pohon, pagar dlsb.

Sebenarnya sudah lebih mudah bagi kita sekarang mencari tahu norma-norma yang berlaku di destinasi dan adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di komunitas lokal, sebelum kita berangkat. Informasi seperti ini perlu dicari juga selain informasi transportasi, atraksi, kuliner dan tempat belanja. Bagaimanapun, kita adalah tamu yang sedang bertandang ke rumah orang lain. Sebagai tamu, kita tentu menghormati dan mentaati aturan yang berlaku di rumah sang empunya.

Apakah bepergian dengan berbekal uang saku berlebih atau pas-pasan, hampir tidak mungkin kita tidak mengeluarkan uang di destinasi, berbelanja di toko-toko lokal, di pasar tradisional, makan di warung atau rumah makan milik warga, minum kopi di kedai-kedai lokal, naik kendaraan umum, becak mungkin terlihat tidak keren. Jika ingin merasakan pengalaman yang sebenarnya dari sebuah destinasi, justru di tempat-tempat semacam itu kita bisa menemukannya.*** (Yun Damayanti)