Setelah tiba di Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan,  dua jam sebelumnya, langsung diajak melihat prosesi upacara Rambu Solo’ di kawasan sekitar Batutumonga. Hari itu upacara memasuki hari ketiga. Tuan rumah mempersilahkan tamu-tamu di luar keluarga besarnya, terutama turis, menempati  salah satu tempat yang telah disediakan khusus. Dari belakang saya, seorang ibu menghampiri membawa sebuah baki besar dan gelas-gelas berisi kopi. Harum kopi dan satu-dua seruput di pagi hari yang masih sejuk itu — sebab kabut baru saja naik melayang perlahan-lahan — langsung menghilangkan penat setelah 8 jam perjalanan dari Makassar ke Toraja. Di tengah perjalanan kembali ke kota, ada keluarga lain sedang mempersiapkan upacara Rambu Solo’. Keluarga itu masih berkerabat dengan pemandu. Lagi-lagi kopi toraja manis tanpa diimbuhi macam-macam dihidangkan ketika menghampiri keluarga tersebut. Sepanjang perjalanan, pohon kopi dan kakao yang sedang berbuah lebat saat itu ibarat melihat pohon mangga dan rambutan di pekarangan rumah di Jawa. Biji kopi toraja sebelum diolah rasanya manis-sepat.

Memang, saat itu saya cepat membayangkan. Indonesia telah berupaya memanfaatkan dan mempromosikan kopi Indonesia baik di dalam maupun luar negeri akhir-akhir ini. Berbagai even dengan tema kopi diadakan misalnya, festival kopi, pemilihan Miss Coffee Indonesia untuk mengikuti pemilihan Miss Coffee dunia, dan nyaris di setiap even promosi pariwisata di luar negeri selalu disediakan coffee corner gratis bagi para pengunjung. Wamen Parekraf Sapta Nirwandar menginisiasi upaya-upaya tersebut terus-menerus. Tinggal bagaimana daerah-daerah yang sudah mempunyai kopi bermerek tadi betul-betul memanfaatkan kekuatan kopi untuk menarik minat atau membuat wisatawan mengenang betapa nikmatnya menyeruput kopi di Toraja, Aceh, atau Papua.Pertama kali datang ke Banda Aceh, hanya berhasil ngopi dua kali. Seorang teman mengatakan, setiap tamu yang datang ke Banda Aceh mesti ngopi tiga kali. Maka saat kedua kali datang ke kota itu, menyelesaikan misi yang tertunda yakni ngopi tiga kali di tiga warung kopi berbeda. Di pagi hari, ngopi sambil ditemani nasi lemak. Di siang hari, segelas teh tarik dan camilan ringan kue-kue tradisional Aceh menemani meeting di sebuah warung kopi 24 jam di tengah kota. Sore harinya, giliran mi aceh-kuliner yang wajib disantap jika berkunjung ke sini- yang menemani segelas kopi sanger mini dan segelas teh to’. Sore itu, ngopi di salah satu warung kopi favorit mahasiswa dan para profesional muda di Banda Aceh.

Di Gantong, Belitung Timur, diajak ngopi di Kupi Kuli di Museum Kata Andrea Hirata. Tampilan dan rasanya tidak ada beda dengan kopi yang biasa diminum. Menjadi spesial karena kopi itu dimasak seperti kopi yang diminum oleh para kuli di tambang-tambang timah. Biji kopinya ‘diimpor’ dari daratan Sumatera. Budaya ngopi di warung-warung masih terpelihara di sini. Dapat dilihat dari keberadaan warung kopi-warung kopi yang lebih banyak jumlahnya daripada di Kabupaten Belitung. Biro perjalanan dan operator tur di sini tak lupa mengajak tamu-tamunya ngopi dulu sebelum tur berakhir.

Kini, wisatawan dan pelancong bisa mencicipi suguhan kopi yang biasa disajikan oleh warga etnis Timur Tengah saat tahlilan setelah berbelanja batik di Pekalongan. Sejak pukul 5 sore di sudut-sudut kota para pedagang kaki lima menjual minuman yang lebih mirip wedang kopi sebab rasa hangat dan pedas aneka rempah lebih dominan daripada rasa kopinya,.

Di Jepang, sebutlah kata Toraja, warga kebanyakan akan bilang itu merek kopi. Kopi Papua, dari Wamena, belakangan ini banyak diborong oleh pembeli dari Perancis dan dibawa ke negerinya. Sebutkan Kopi Mandailing, Sidikalang, Gayo, akan pasti dikenal oleh banyak warga Belanda. Artinya, kopi “arabica” dari Indonesia memang punya pula “bakat” untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

 Sekilas mengenai kafein

Kafein ada di mana saja. Tidak hanya di dalam kopi, sejumlah kafein terkandung di dalam beberapa makanan dan minuman favorit kita. Kopi “decaf” misalnya, bukan berarti kopi “tanpa kafein” karena di dalamnya mengandung kurang dari 2,5% kafein. Cokelat pun mengandung sejumlah kecil kafein. Cokelat berwarna lebih gelap mengandung kafein sebanyak yang terkandung dalam sekaleng Coke. Banyak pil penghilang rasa sakit dan penurunan berat badan juga mengandung kafein.

Sekitar 54% dari kita mengkonsumsi kafein dari kopi dan 43% mengkonsumsinya dari teh. Rata-rata kita mengkonsumsi 300 mg kafein per hari, sedikit di atas jumlah yang dikandung dalam segelas kopi Starbucks paling kecil (tall) atau minuman berenergi. Diperkirakan 12.000 ton kafein dikonsumsi setiap tahun.

Menurut studi Dunkin Donuts, 46% dari seluruh pekerja di AS merasa kurang produktif tanpa kopi. Sebuah artikel dalam Lifehacker baru-baru ini melaporkan minum kopi dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja pekerjaan sederhana yang membutuhkan pemikiran abstrak, seperti entri data, membantu meningkatkan daya ingat, pemahaman, refleks dan kejelasan. Manfaat terbesar yang ditemukan dalam laporan itu adalah dorongan terukur yang disebut “dorongan impulsif” pekerjaan, atau pekerjaan di mana akurasi dikorbankan demi kecepatan.

Studi lain oleh US National Library of Medicine menemukan, minum kopi sebelum bekerja dapat membuat rileks beberapa bagian dari tubuh kita. Studi oleh Pusat Penelitian Ilmu Sosial AS menemukan, kafein meningkatkan efektivitas interaksi sosial di tempat kerja yang mendorong produktivitas. OnlineMBAPrograms.org mengkompilasi penelitian dari seluruh situs internet dan menemukan bahwa kopi mengurangi risiko sejumlah masalah kesehatan. Kopi menurunkan kemungkinan menderita sirosis sebesar 80%, diabetes tipe II 60%, penyakit jantung 25%, stroke 20% dan depresi sebesar 20%.

Di sisi lain, kelebihan kafein pun akan membawa efek negatif. Kopi merupakan zat diuretik ringan yang dapat menyebabkan berkurangnya vitamin B dan C serta kalsium, besi dan seng. Hal ini juga menyebabkan lebih sering buang air kecil dan dehidrasi. Di kalangan peminum kopi sehari-hari telah menunjukkan gejala peningkatan tingkat stres. Penting untuk diingat, kafein adalah zat psikoaktif yang diklasifikasikan oleh American Psychological Association dalam kategori yang sama dengan alkohol, nikotin, heroin dan ganja.

 

Budaya ngopi dan kebiasaan masyarakat

Tanaman kopi dan coklat adalah tanaman yang didatangkan ke Nusantara. Tanaman ini kemudian menjadi kekayaan plasma nutfah Indonesia karena adaptasi tanaman terhadap tempat tumbuhnya. Buahnya mempunyai rasa dan kandungan khas, berbeda dengan tanaman yang sama di tempat asalnya.

Jenis kopi terbaik, arabika, dari dataran tinggi Gayo, Toraja dan Wamena sebagian besar diekspor, diolah di gerai-gerai kopi bermerk global dan dicecap oleh jutaan penikmat kopi di seluruh dunia. Begitupun dengan buah kakao.

Sekarang minum kopi dan mengkonsumsi penganan dari coklat sudah menjadi bagian rutinitas sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat terutama yang bermukim di perkotaan. Budaya ngopi di tempat-tempat umum bisa diterima sebab sebagian besar dari kita memang senang bersosialisasi. Di daerah-daerah yang dipengaruhi kebudayaan Melayu cukup kuat umunya memiliki kebiasaan minum kopi bersama hingga lama-kelamaan menjadi budaya. Kebiasaan ini dipengaruhi juga kebiasaan masyarakat yang senang jajan atau makan bersama di luar. Agar dapat memenuhinya, masyarakat yang tadinya memasak untuk dikonsumsi sendiri berani memasak aneka kuliner, termasuk meracik kopi dan membuat aneka penganan dari coklat, untuk dikonsumsi oleh orang lain (pembeli).

Pengaruh budaya Melayu di Pulau Sumatera, Keppri, Babel, dan sebagian Kalimantan cukup kuat. Masyarakat yang bermukim di pulau-pulau tersebut, di Pulau Jawa, Sulawesi bagian selatan dan utara berkarakter terbuka, suka jajan dan senang menikmati aneka kuliner. Kegiatan berburu dan bersantap di luar rumah, ditunjang dengan kemudahan akses informasi dan aksesibilitas yang memungkinkan pengaruh kuliner dan gaya hidup dari luar masuk, menjadi bagian dari agenda rekreasi.

Di Banda Aceh, warung kopi-warung kopi membeli biji kopi langsung dari daerah penghasilnya seperti di Takengon, wilayah pantai barat Aceh dan Lamno. Menurut salah seorang pemilik kedai kopi terkenal di ibukota Serambi Mekkah, orang Aceh pada umumnya, terutama di Banda Aceh, kurang menyukai jenis arabika sebab rasanya terlalu pekat. Bergelas-gelas kopi yang dikonsumsi menggunakan kopi jenis robusta. Kopi arabika disediakan untuk memenuhi selera dan permintaan konsumen dari luar Aceh. Selain itu, jenis ini dirasakan terlalu mahal bagi pengusaha warung kopi.

Kekayaan kuliner khas Pulau Lombok, NTB bukan hanya ayam taliwang dan pelecing kangkung. Pelecing di pulau pedas ini (lombok dalam bahasa Jawa berarti cabai dan kuliner khas Lombok didominasi rasa pedas) sama seperti bumbu pecel yang bisa dipasangkan dengan aneka bahan makanan. Masyarakat di pulau ini rupanya lebih menyukai memasak untuk dikonsumsi sendiri saja. Wisatawan atau pelancong yang suka ‘berburu’ kuliner mesti dipandu oleh warga lokal yang mengetahui rumah-rumah pembuat kuliner khas Lombok. Mereka mau menerima pesanan tapi tidak untuk sengaja memasak lalu menjualnya.

Lain lagi dengan di Toraja. Masyarakatnya bisa dikatakan pengkonsumsi kopi. Masyarakat di Toraja pasti akan menyuguhkan kopi kepada tamu. Itu bisa dilihat pada saat upacara-upacara misalnya Rambu Solo’ dan Rambu Tuka. Mereka menyukai jenis arabika. Tapi, kebanyakan hanya dikonsumsi sendiri. Mereka tampaknya tidak mempunyai kebiasaan minum kopi bersama-sama di tempat umum. Keberadaan warung-warung makan di sekitar pasar untuk memenuhi kebutuhan para pekerja. Dengan sengaja keluar rumah untuk bersantap dan menikmati kuliner, tampaknya itu bukan kebiasaan mereka.

Sebagian besar hasil panen kopi dijual keluar daerah dan keluar negeri. Kakao yang tumbuh sama suburnya dengan kopi di Toraja pun rupanya tidak pernah dicicipi oleh masyarakat yang menanamnya. Semua hasil panen langsung dibawa ke Makassar kemudian dibawa lagi keluar Sulawesi terutama ke Jawa untuk diolah atau diekspor. Syukurlah, wisatawan dan pelancong kini lebih mudah mendapatkan kopi toraja yang sudah diolah menjadi bubuk dan dikemas ketika berkunjung ke sana. Namun, produk dari kakao sama sekali belum ada.

Kopi di Bali sangat terbantu dengan pulau ini menjadi pusat destinasi wisata di Indonesia. Kopi-kopi dari daerah lain seperti Mandailing, Priangan, dan dari perkebunan-perkebunan kopi di Jawa Tengah, di Nusa Tenggara Timur dan lain-lain mesti lebih berani berkreasi dan berinovasi menghasilkan produk kopi yang khas yang membedakannya dengan kopi dari Gayo, Toraja dan Wamena serta Bali.

Apakah produknya dalam bentuk biji kopi mentah maupun yang sudah diolah menjadi bubuk dan dikemas secara higienis serta menarik, atau dalam bentuk produk olahan lain seperti penganan ringan dan permen.

Di setiap gerai waralaba penjual kopi dan donat selalu tersedia pilihan menu minuman kopi, coklat dan teh. Minuman dari coklat mungkin masih kurang populer daripada menyeruput kopi atau minum teh. Tapi siapa yang tidak suka dan tidak bisa makan coklat sekarang? Seorang chocolatier asal Belgia yang bermukim di Jogja sukses membuat coklat dari kakao Indonesia. Coklat rasa Indonesia juga diproduksi di Garut dengan memadukan coklat dan dodol. Kualitas kakao Indonesia hanya berbeda tipis dari kakao Afrika yang dijadikan bahan utama pembuatan Belgium Chocolate yang sangat terkenal itu.

Kita mungkin tidak punya kebiasaan minum teh seperti orang Inggris dan Jepang, juga belum bisa membuat fine chocolate seperti Belgia. Namun bukan berarti teh dan cokelat yang juga mengandung kafein itu tidak bisa kita buat menjadi produk baru yang sangat mengindonesia. Setelah rasa orisinal, coklat adalah pilihan rasa yang ditawarkan dalam kekayaan penganan tradisional yang sudah mendapat sentuhan modernisasi.

Budaya ngopi ala Melayu di Indonesia lebih beragam daripada di negara-negara ASEAN lainnya. Pun sangat berbeda pula dari yang ada di Eropa dan Amerika. Kegiatan ngopi bersama di tempat-tempat umum kerap kali dipandang sebagai kegiatan bermalas-malasan. Mengefektifkan kegiatan bermalas-malasan itu menjadi suatu kegiatan produktif merupakan salah satu pekerjaan rumah dalam mempertahankan budaya ngopi serta mempromosikan dan menjual produk-produk berkafein berupa kopi, kakao dan teh fresh from plantation in Indonesia.