Famtrip ini dilaksanakan dalam rangka persiapan penerbangan internasional pertama yang akan membawa wisman ke Belitung.Didukung oleh semua stakeholders pariwisata di Belitug dan Kemenpar.(Foto:Asdep Pengembangan Pasar Asia Tenggara,Kempar)

Famtrip ini dilaksanakan dalam rangka persiapan penerbangan internasional pertama yang akan membawa wisman ke Belitung.Didukung oleh semua stakeholders pariwisata di Belitug dan Kemenpar.(Foto:Asdep Pengembangan Pasar Asia Tenggara,Kempar)

Jakarta,(ITN-IndonesiaTouristNews):Chelly Taso, Ketua ASITA DPC Ende dan Korwil ASITA NTT di Pulau Flores, menjelaskan bahwa peserta dari Komodo Travel Mart (KTM) 2017 yang memilih post tour ke Ende hampir mencapai 40 orang. Paling banyak dari operator tur, ada juga media. Dari dalam negeri dan beberapa dari luar negeri. Namun sampai saat ini baru sekitar 11 peserta yang bisa diakomodasi. Dia berharap adanya dukungan dari pemda.

Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat dan Kelimutu di Kabupaten Ende berada di Pulau Flores. Namun jarak dan aksesibilitasnya antar-destinasi itu tidak mudah dijangkau. Program post tour KTM 2017 merupakan kesempatan yang bagus.

“Famtrip ke Ende bukan dibatalkan. Tetap berlangsung. Tapi ada kemungkinan, apabila tidak bisa semua terakomodasi, mereka yang sudah memilih tur ke Ende akan dialihkan ke destinasi lain,” kata Abed Frans, Ketua ASITA NTT.

Famtrip ke Ende

Salah satu program post tour Komodo Travel Mart (KTM ) 2017 yang akan berlangsung pada 18-21 Oktober 2017 adalah ke Ende. Di Kabupaten Ende ada Danau Tiga Warna Kelimutu dan rumah pengasingan Bung Karno. Danau Tiga Warna Kelimutu adalah salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) sebelum destinasi Labuan Bajo dan komodo booming beberapa tahun belakangan terakhir.

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende,NTT.(Foto:Ist)

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende,NTT.(Foto:Ist)

Bagi destinasi juga suppliers, memberikan pengalaman langsung ini guna menciptakan ataupun meningkatkan kepedulian (awareness) kepada calon mitra bisnis dan mendatangkan kunjungan. Khususnya famtrip bagi media, famtrip sangat bisa dimanfaatkan sebagai sarana publikasi bagi destinasi maupun organisasi (pemerintahan dan bisnis) dengan nilai yang bisa melampaui daripada memasang iklan.

Pemahaman tentang Famtrip

Familiarization Trip (famtrip) masih menjadi bagian penting dalam strategi memasarkan, mempromosikan dan menjual destinasi maupun produk-produknya (obyek wisata, akomodasi, dan lain-lain). Karena pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang’ itu masih berlaku hingga saat ini di dunia pariwisata. Meskipun industri perjalanan akan terus seiring sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin digital dan tanpa batas. Maka pemerintah melalui Kementerian Pariwisata pun mempunyai program famtrip dalam memasarkan Indonesia sebagai tujuan wisata.

Dalam Trip Savvy dikatakan, famtrip adalah satu alat sangat penting bagi para agen perjalanan/operator tur dan meeting planners. Mereka mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai produk-produk dan destinasi dalam kurun waktu yang singkat.

Mengapa pelaku industri membutuhkan famtrip? Agar mereka mengenal produk-produk yang ditawarkan oleh destinasi seperti akomodasi apa yang tersedia; maskapai penerbangan apa saja yang melayani rute ke destinasi; berapa lama waktu perjalanan dari tempat asal ke tujuan dan antar obyek wisata; kondisi, fasilitas di obyek wisata dan kegiatan apa yang bisa dilakukan; hingga level jasa pelayanan yang diberikan sumber daya manusia di destinasi. Dengan telah merasakan pengalaman perjalanan secara langsung (first hand) di destinasi, mereka akan bisa merekomendasikan perjalanan yang bagaimana kepada para pelanggannya.

Bagi penyedia jasa (supplier), dari berpartisipasi menjadi tuan rumah (hosting) peserta famtrip diharapkan untuk mendapatkan banyak kontak bisnis baru hingga realisasi transaksi setelah famtrip.

Danau Kelimutu,Ende,Nusa Tenggara Timur.(Foto:Ist.)

Danau Kelimutu,Ende,Nusa Tenggara Timur.(Foto:Ist.)

Dory Kashin, Senior Event Planner di Managing Matters, Inc. dalam situsnya www.managingmatters.com menerangkan, tujuan famtrip bagi destinasi adalah mendapatkan masa depan bisnis, membuat peserta famtrip jatuh cinta kepada destinasi. Ini merupakan investasi kecil guna membawa lebih banyak kunjungan ke destinasi.

Bagi pariwisata di daerah, bisnis yang diperoleh pelaku bisnis pariwisata artinya pemasukan bagi daerah (PAD). Untuk menjalankan usahanya, pelaku bisnis pariwisata membutuhkan jejaring bisnis yang luas yang memberi peluang-peluang hingga merealisasikan potensinya sebagai transaksi.

Famtrip bisa dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya, mendukung program famtrip yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, atau diselenggarakan sendiri oleh pemda, atau mendukung program famtrip yang diselenggarakan oleh pelaku industri perjalanan seperti airlines yang akan membuka rute layanan baru ke daerah. Atau ketika asosiasi industri di desitinasi yang menyelenggarakan pre atau post tour dari bursa/pasar pariwisata.(Yun Damayanti)