Salah satu kapal Royal Caribbean,Quantum of the Seas.(Foto:royalcaribbean.com.sg)

Salah satu kapal Royal Caribbean,Quantum of the Seas.(Foto:royalcaribbean.com.sg)

Ini saatnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara memasuki industri pariwisata kapal pesiar. Begitu disampaikan Presiden dan COO Royal Caribbean Adam Goldstein kepada ASEAN Cruise News. Semakin banyak pemilik dan operator kapal pesiar global menempatkan armadanya di kawasan ini dan ukuran kapal-kapal yang akan dioperasikan pun semakin besar. Perlakuan negara-negara ASEAN terhadap pariwisata kapal pesiar saat ini amat jauh berbeda daripada 10 tahun lalu. Meskipun realitasnya, supply pelabuhan-pelabuhan (ports of call) masih jauh daripada permintaan. Berada di kawasan tropis, Asia Tenggara bisa menjadi Karibia bagi wisatawan asal Cina. Dan sekarang cruisers asal India juga mulai meminatinya.

Goldstein memuji upaya proaktif Singapura dalam mengembangkan dan memajukan pariwisata kapal pesiar di kawasan Asia Tenggara. Yaitu mengusahakan pembiayaan pembangunan bersama dan berupaya mempromosikan bersama-sama untuk meraih pasar seperti India dan pasar-pasar baru lainnya.

“Apa yang perlu diupayakan adalah kita membutuhkan lebih banyak infrastruktur pelabuhan, ports-of-call, di seluruh kawasan ini. Secara teori, tujuan-tujuan yang bisa menjadi cruise destinations itu tak terbatas. Tetapi, ada perbedaan yang sangat besar antara pasokan pelabuhan secara teoritis dengan pasokan port-of-call yang sebenarnya. Ini merupakan peluang baik bagi dermaga-dermaga dan pelabuhan-pelabuhan. Karena akan lebih banyak operator menempatkan kapal-kapal kelas Quantum di Asia, para penumpang wisatawan itu akan membutuhkan transportasi dalam jumlah tak sedikit, lebih banyak atraksi dan tempat-tempat belanja yang lebih bervariasi, serta menawarkan pengalaman-pengalaman yang berbeda dan unik,” jelas Goldstein (ASEAN Cruise News, 8/3).

Kapal Azamara Quest dari Royal Caribbean Cruise Lines di dermaga di Pelabuhan Benoa,Bali.(Foto:Pelindo III Cabang Benoa)

Kapal Azamara Quest dari Royal Caribbean Cruise Lines di dermaga di Pelabuhan Benoa,Bali.(Foto:Pelindo III Cabang Benoa)

Royal Caribbean sudah satu dekade berada di Asia Tenggara, memiliki tim yang sangat proaktif di lapangan di kawasan ini yang membantu pembangunan dan infrastruktur pelabuhan. Industri kapal pesiar memerlukan investasi yang jauh ke depan. Ini karena investasi miliaran dolar membangun kapal dan pelabuhan seringkali baru akan memberi keuntungan bertahun-tahun kemudian. Industri ini pun membutuhkan tingkat keahlian yang tinggi.

Selama tahun 2016, Singapura menerima 1,2 juta wisatawan kapal pesiar yang berangkat dan tiba di dua terminal khusus kapal pesiarnya. Jumlah kapal pesiar ke pelabuhannya mencapai 411 calls daripada 385 calls pada tahun 2015, atau meningkat 7 persen.

Menurut data Singapore Tourism Board (STB), sekitar 100.000 penumpang kapal pesiar berasal dari India. Mereka datang dari kota-kota pertama dan kedua. Turis kapal pesiar dari India tertarik untuk wisata belanja dan wisata kuliner. Pasar dari Eropa, khususnya dari Jerman, yang memulai pelayaran dari Singapura tumbuh 55%. Ini berkat dibukanya penerbangan langsung dari Singapura ke Dusseldorf, Jerman tahun lalu.

CEO Carnival Ann Sherry memperkirakan cruisers dari Australia akan mencapai 1,2 juta hingga 1,3 juta orang tahun 2017. Angka tersebut tumbuh 20% daripada tahun 2015 yang mencapai 1.058.000 penumpang. Di kawasan Asia-Oceania, kota Sydney akan berperan penting dalam trio destinasi kapal pesiar antara Cina-Singapura-Australia.

STB berharap, bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya bisa meningkatkan kepedulian terhadap merek “Cruise South East Asia” dan daya tarik destinasi pada tahun 2017. Negara-negara anggota ASEAN telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan pariwisata kapal pesiar di kawasan.

Bagaimana Indonesia?

Selain infrastruktur dan standardisasi pelayanan di pelabuhan, para pemilik dan operator kapal-kapal pesiar sudah sejak lama menunggu peta pelayaran berstandar internasional, diakui dan dipakai dalam pelayaran global, serta cruising guide di perairan Indonesia. Pemerintah dan pemda perlu cepat tanggap terhadap permintaan penumpang kapal-kapal pesiar yang ingin singgah di Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Wakatobi dan tujuan-tujuan lain yang berada di luar pelabuhan-pelabuhan besar dan utama. Kapal-kapal pesiar dengan ukuran lebih kecil, tipe explorer, bisa menjelajah dan singgah lebih dalam seperti di Pulau Dodola, di gugusan pulau di Kepulauan Kei, di perairan Laut Banda, di gili-gili yang berserak di Nusa Tenggara, dan lain-lain. Now, it is more than to say that we are beautiful.*** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)

Komentar dari ITN: Bagi Indonesia, mengembangkan pariwisata kapal pesiar bisa merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan bisnis transportasi laut bagi penumpang. Standar infrastruktur, SOP dan pelayanan bagi penumpang di pelabuhan mau tidak mau akan meningkat. Seperti yang terjadi di bandara-bandara dan stasiun-stasiun kereta api beberapa tahun belakangan ini.***