Menpar Arief Yahya dan Rusdi Kirana (depan, ki-ka). Foto: Humas Kemenpar)

Menpar Arief Yahya dan Rusdi Kirana (depan, ki-ka). Foto: Humas Kemenpar)

 Arief Yahya, Menteri Pariwisata, mendatangi markas Lion Air di Jakarta lagi awal Mei 2017. Itu kali kedua bertemu dengan Rusdi Kirana, bos Lion Air Group. Lengkap pimpinan group itu menerima Menpar dan Tim, Edward Sirait, CEO Lion Group, Rudy Lumingkewas, CEO Lion Air, Achmad Hasan, CEO Wings Air, Rama Chandra, CEO Malindo (Malaysia), dan Darsito Hendroseputro, CEO Thai Lion Air. Bersama Menpar tampak antara lain Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara, I Gde Pitana, Staf Khusus Menpar bidang Infrastruktur Pariwisata, Judi Rifajantoro dan Tenaga Ahli bidang Konektifitas Udara Robert Waloni.

Hasil pertemuan itu? Niscaya produktif dan strategis bagi pariwisata Indonesia. Para pelaku bisnis pariwisata sepatutnya mencermati terus gerakan-gerakan Menpar dan Tim, karena hampir setiap gerakan “road show”nya membukakan peluang bagi peningkatan bisnis pariwisata. Bukankah akan sayang sekali jikalau pelaku industri, besar maupun kecil, tak mengantisipasi untuk mengefektifkan peluang peningkatan bisnis?

Terkait pertemun dengan pimpinan Lion Air Group itu, dalam satu siaran pers diungkapkan, Lion Air melaporkan jumlah penerbangan ke Manado dari China yang sekarang menjadi 3 kali sehari, mampu mengangkut 2.400 wisman, kata Rusdi Kirana. Namun dihadapi kendala. Jumlah hotel di Manado tidak mencukupi, sehingga peningkatan lagi kapasitas penerbangan sulit dilakukan.

Rusdi Kirana menyarankan agar ada perusahaan BUMN, misalnya WIKA, mau membangun hotel dengan bantuan financing dari bank-bank BUMN.

Lion Air bersedia untuk memblok dan memastikan pengisian kamar-kamar hotel tersebut, sehingga ketersediaan pelanggan (konsumen) hotel dapat terjamin, begitulah dinyatakan oleh Rusdi Kirana.

Khusus dan spesifik untuk kota Manado, diusulkan agar dibuatkan panggung di kawasan jalan raya utama Boulevard Manado, untuk bisa dijadikan tempat pertunjukan seni budaya setiap hari.

Kemudian, secara khusus Menpar Arief Yahya menyatakan dorongannya agar Lion Air Group membuka rute ke Tanjung Pandan, Belitung. Bandara itu sudah berstatus International Airport. Jawabannya? Malindo tertarik untuk menerbanginya dari bandara Subang, Airport Kuala Lumpur.

Menpar juga mendorong Lion Air Group untuk membuka lebih banyak rute ke Bali dan Lombok dari Kuala Lumpur, serta “direct flight” dari India yang saat ini belum ada.

“India sangat potensial, tahun 2016 belum ada direct flight, tapi jumlah wisman India ke Indonesia telah mencatat 300.000 per tahun. Berarti per hari ada sekitar 1000 orang? Potensi ini belum digarap, kata Arief Yahya.

Diberitakan juga, Kemenpar dan Lion Air Group akan bekerjasama pada kegiatan promosi “media placement” untuk kota-kota asal wisman di India, China, dan Thailand yang diterbangi maskapai oleh Lion Air Group.***