9,435 juta wisman masuk di tahun 2014, melampaui target 9,3 juta. Menggembirakan! What next? Dan siapa yang merasakan hingga menikmati hasil itu, dapat tercermin juga dengan melihat peningkatan jumlah kunjungan wisman menurut pintu masuk. Masyarakat dan pelaku wisata di Bali jelas menikmati sekali, niscaya bertambah banyak hotel, pramuwisata, rental mobil dan sepeda motor hingga restoran dan toko suvenir yang kebagian penambahan tamu. Wisman yang mendarat langsung di bandara Ngurah Rai Bali, tahun lalu itu 3.731.735 wisman, tahun sebelumnya 3.241.889. Jadi bertambahnya 489.846 orang, hampir setengah juta.

Wisman yang mendarat langsung di Jakarta, bertambahnya tahun 2014 tercatat hanyalah 5.935 dibandingkan jumlah wisman tahun 2013. Yaitu 2.246.437 (2014) dari 2.240.502 (2013). Praktis tak bertambah dan efek penambahannya kalaupun ada tentulah relatif kecil kecil sekali. Nyaris tak berarti bagi penambahan hasil ekonomis terhadap masyarakat. Apalagi mengingat asumsi bahwa sebagian yang mendarat di bandara Jakarta dan dicatat oleh imigrasi sebagai inbound travelers, tibanya untuk stopover atau transit lalu menuju destinasi Bali atau Yogyakarta. Imbas ekonomi mereka ke masyarakat Jakarta kemungkinan besar hanyalah kecil kecil sekali juga. Kecuali hasil dari wisatawan yang berkunjung ke Jakarta dalam rangka kegiatan bisnis.

Jumlah wisman bulanan yang berkunjung ke Indonesia 2013-2014 :

TTI berita analisis The Great wisman bulanan

Yang masuk melalui Batam, bertambahnya tahun 2014 sejumlah 117.680 wisman. Yah, lumayan dibandingkan Jakarta, kendati masih jauh di bawah apa yang didapatkan masyarakat Bali.

“Bandara besar” lainnya seperti Medan (Kuala Namu) dan Makassar (Hasanuddin) penambahan tamu wisman yang mendarat langsung masih relatif lebih kecil lagi. Medan bertambah hanya 9.174 orang, menjadi 234.724 (2014) dari  225.550 (2013). Yah, ini juga praktis tak berimplikasi banyak menambah “rezeki”.

Adapun Makassar, justru turun –11,38%, jumlah tamu yang langsung mendarat di bandaranya dari luar negeri berkurang 2000 orang, dari tadinya 17.730 (2013) menjadi 15.713 (2014).  Yang berkurang jumlah wismannya ternyata terjadi di bandara-bandara Manado (-13,24%), Solo (-27,21%), Balikpapan (-22,17%). Beberapa pintu masuk lain turunnya di bawah 10% atau satu dijit.

Yang bertambah tamunya di atas 10% adalah bandara Minangkabau di Padang, bertambahnya sekitar 6.000 orang dari 44.135 (2013) menjadi 50.196 (2014).

Data tersebut di atas berdasarkan siaran dari BPS.

Anda tentu dapat merasakan implikasinya? Bahwa, daerah-daerah perlu “waspada”, yang mengalami turunnya jumlah wisman yang mendarat langsung dari luar negeri, agar jangan menyia-nyiakan kesediaan operator penerbangan yang telah melayani rutenya. Di lain pihak, perlu dikasihani kalau beban peningkatan jumlah kunjungan wisman tahun-tahun yang akan datang diletakkan ke “pundak” destinasi Bali dan Batam dan Jakarta.

Maka konsep “pemasaran” yang telah diadopsi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Kementerian Pariwisata, kata orang — condition sin quanon — perlu dilaksanakan bersama. Yakni konsep Great Batam, Great Jakarta dan Great Bali. Daerah-daerah di sekeliling Batam, Jakarta, Bali,  — idealnya — , datang berkoordinasi ke masing-masing induk Great-nya. Atau sebaliknya. Dan secara nasional, pemasaran dan promosi di bawah branding Wonderful Indonesia akan dikoordinir oleh Pusat.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan kepada pers, bahwa konsep pemasaran tiga Great – yakni Batam, Jakarta dan Bali, yang merupakan destinasi utama dipromosikan saat ini, mempunyai latar belakang konsep bahwa akhirnya destinasi Indonesia akan terbagi dengan penambahan pengembangan perwilayahan, yatu: Great Kalimantan, Great Sumatera, Great Bandung, Great Yogyakarta, Great Surabaya, Great Sulwesi, Great Maluku Papua. Tergambar seperti ini :

Pengembangan Perwilayahan pariwisata Indonesia : TTI berita analisis The Great selengkapnya

***