Holidin dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum).Bunga ini sedang dalam fase akhirnya.(Foto:YD)

Holidin dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum).Bunga ini sedang dalam fase akhirnya.(Foto:YD)

Bengkulu, (ITN-IndonesiaTouristNews): Melihat tanaman-tanaman bunga bangkai (Amorphophallus titanum) ditebang dan umbinya dicacah di lahan hutan yang dirambah, Holidin bersama 6 orang saudaranya merasa prihatin. Tujuh orang bersaudara itu kemudian secara otodidak dan mandiri berupaya menyelamatkan dan menjaga salah satu tumbuhan endemik Sumatera dan puspa langka Indonesia. Itu pada awal tahun 1980-an, Lahan kebun kopi milik keluarga seluas sekitar 3 hektar kemudian dialihfungsikan sebagai lahan konservasi puspa tersebut. Sampai akhirnya kebun keluarga itu dikenal dengan nama Taman Konservasi Puspa Langka di Desa Tebat Monok, Kepahiang, Bengkulu. Hingga kini wisatawan dan peneliti dari lebih dari 16 negara telah mengunjunginya.

Sampai dengan akhir 1970-an tutupan hutan di Kepahiang, Bengkulu dalam kondisi bagus. Kondisi mulai berubah sejak awal 1980-an. Di bekas lahan hutan yang dirambah kerap kali ditemukan bunga bangkai dan umbinya yang telah dicacah. Konon ada mitos, ada yang bisa dimanfaatkan dari bunga yang mengeluarkan bau tidak sedap saat mekar sempurna itu. Tapi bukan untuk dimakan.

Ide menyelamatkan puspa tersebut sudah muncul sejak tiga tahun setelah keluarga Holidin menetap di Kepahiang sekitar tahun 1979. Orang tua tujuh bersaudara itu mendukung inisiatif dan yang dilakukan oleh anak-anaknya ketika mereka hendak mengalihfungsikan kebun kopi yang bernilai ekonomi bagi keluarga pada tahun 1998. Di lahan seluas sekitar 3 hektar yang dulu ditanami kopi, sampai sekarang menjadi tempat menangkarkan bunga bangkai. Dengan pengalaman memantau di habitat alaminya, Holidin bersama saudara-saudaranya belajar konservasi secara otodidak.

Keluarga Holidin pun memikirkan tempat memarkir kendaraan tamu.(Foto:YD)

Keluarga Holidin pun memikirkan tempat memarkir kendaraan tamu.(Foto:YD)

Keinginan dan semangat itu bertambah besar setelah Holidin mendengar setiap kebun raya di dunia memiliki bunga bangkai. Mereka tidak ingin anak-anak dan cucu-cucunya nanti mesti membayar mahal ke luar negeri hanya untuk melihat bunga yang bisa mereka temukan di kebun atau di hutan sekitar desanya.

Khusus bagi Holidin, berinteraksi dengan para peneliti dari dalam dan luar negeri pengunjung taman konservasinya terus mengasah daya pikirnya. Dari pengalaman dia meyakini, bunga bangkai dan bunga rafflesia bukan bunga atau tumbuhan karnivora seperti yang diyakini oleh para ilmuwan selama ini. Bahwa bunga bangkai bisa ditanam di mana saja asal dengan kelembaban yang dimaui sang puspa untuk bisa tumbuh. Dan bunga rafflesia bukan tumbuhan penumpang karena dia hanya mau tumbuh di satu tumbuhan inang saja, liana tetrasigma.

Berbicara dengan Holidin seolah pengunjung diajak menyelami kehidupan bunga bangkai dan habitatnya di dalam hutan hujan tropis Sumatera.

Selain melihat bunga juga penangkaran bunga bangkai yang dilakukan oleh Holidin bersaudara di Taman Konservasi Puspa Langka di Kepahiang.(Foto:YD)

Selain melihat bunga juga penangkaran bunga bangkai yang dilakukan oleh Holidin bersaudara di Taman Konservasi Puspa Langka di Kepahiang.(Foto:YD)

Di taman konservasi ini pengunjung bisa menemukan 5 spesies dari 11 spesies bunga bangkai yang ada di seluruh Pulau Sumatera. Diantaranya, Amorphophallus titanum, Amorphophallus gigas, Amorphophallus variabilis dan lain-lain. Di sana juga terdapat satu jenis bunga bangkai yang sampai saat ini belum diketahui jenisnya. Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kebun Raya belum bisa mengkonfirmasikannya.

Selain bunga bangkai, di sana juga bisa menemukan penangkaran inang bunga rafflesia, liana tetrasigma. Menurut Holidin, di Kepahiang telah ditemukan 25 titik bunga rafflesia. Di manapun dia berada selalu tumbuh di inang yang sama.

Dia bersama saudara-saudaranya tak hanya memikirkan penangkaran bunga bangkai dan inang bunga rafflesia. Semakin sering dikunjungi membuat mereka semakin memahami bagaimana tamu-tamunya tidak kesulitan menjangkau tempat tumbuh bunga bangkai, cukup aman saat melihatnya, dan kendaraan yang membawa tamu bisa diparkir tanpa merintangi pengguna jalan lintas Bengkulu.

Taman Konservasi Puspa Langka di Desa Tebat Monok, Kepahiang sudah berdiri selama hampir 20 tahun. Tidak ada biaya kunjungan khusus kecuali donasi dari para pengunjung. Dukungan dana dari pemerintah maupun bimbingan ilmiah tentang konservasi dari lembaga terkait belum ada.

Ini umbi bunga bangkai.(Foto:YD)

Ini umbi bunga bangkai.(Foto:YD)

Siapakah Amorphophallus?

Bunga bangkai termasuk keluarga talas-talasan. Batang penopang bunga dan buahnya seperti batang talas. Bunga ini punya dua siklus hidup. Dari umbi dia akan tumbuh sebagai pohon terlebih dahulu. Selama 4 sampai 5 tahun pertama pohon akan mengalami proses tumbuh-mati beberapa kali guna memperbesar umbi. Setelah umbinya mencapai berat sekitar 6 kilogram dan pohonnya mati maka dari umbi yang sama akan muncul bunga.

Dari umbi yang sudah besar itu kemudian akan muncul tunas sepanjang antara 5 sentimeter-10 senitimeter. Dari tunas hingga mekar butuh waktu selama 3 bulan.

Ada 2 fase bunga. Rata-rata, dari kelopak membuka sampai mekar sempurna selama 8 jam, kondisi mekar sempurna juga 8 jam, dan 8 jam ketiga atau setelah 16 jam kelopak bunga akan mulai menutup. Setelah bunga mati akan keluar buah berwarna merah dan bentuknya mirip buah pinang. Waktu hidupnya singkat saja dibandingkan dengan proses yang mesti dilalui untuk memekarkan satu bunga.

“Turis sudah datang ke sini. Mereka dari Amerika, Eropa, Jepang. Bahkan dari Korea telah merekam proses mekarnya bunga bangkai. Kami pun sudah menerima filmnya. Mereka itu mau dan sanggup bayar berapapun harganya. Tapi, kenapa orang-orang di sini kurang peduli? Saya dan keluarga sangat prihatin. Padahal ini bunga endemik Sumatera,” ujar Holidin.

Buah yang muncul setelah bunga bangkai mekar.(Foto:YD)

Buah yang muncul setelah bunga bangkai mekar.(Foto:YD)

Yang lazim dilakukannya, menghubungi komunitas peduli puspa langka dan operator tur yang mempunyai paket melihat puspa langka seperti Alesha Wisata. Informasinya disampaikan dua minggu sebelum bunga mekar. Komunitas peduli puspa langka dan operator kemudian akan menyebarkannya lagi ke hotel-hotel dan melalui kanal media sosial.

“Sebenarnya kami juga bisa melakukannya dengan keadaan seperti sekarang ini. Tapi tidak menjadi masalah karena kami juga tidak menutup buat kerja sama,” tambahnya lagi.

Pernah ada rencana mau mengadakan simposium internasional mengenai puspa langka sumatera di Bengkulu pada tahun 2015. Waktu itu direncanakan hadir para peneliti dari 70 negara. Sayangnya dibatalkan karena kendala teknis.*** (Yun Damayanti)