“Light Star” Pariwisata di Nusa Tenggara Barat (I)

Cocok untuk “to explore, discover, atau adventure”.

Wisman sudah lebih dari 33 negara.

Praksis mengelola pariwisata NTB

Praksis mengelola pariwisata di NTB

Lalu Gita Aria

Lalu Gita Ariyadi

Pengurus Lombok Hotel Association – LHA, menemui Gubernur Nusa Tenggara Barat,  Zainul Mazdi awal tahun 2009 ini di Mataram. Mereka menyampaikan salah satu kesimpulan. Bahwa, akan harus berangsur memberhentikan alias PHK sejumlah pegawai, jikalau situasi bisnis pariwisata tidak mengalami perubahan. Gubernur menampung masukan itu, kemudian melakukan penjajagan solusi. Solusi dan kebijakan serta langkah yang ditempuhnya kemudian, mengesankan suatu praktek pelaksanaan manajemen pariwisata. Praktek dimaksud terstruktur seperti pada bagan di atas.

Terakhir saya ke Lombok sepuluh tahun silam. Ketika minggu lalu berada kembali di sana, sungguh pembaca! , rasanya Lombok dewasa ini berada pada posisi “terbaik” untuk maju. Lombok khususnya, bersama pulau Sumbawa dan NTB – Nusa Tenggara Barat pada umumnya, saat ini memiliki tiga salesable purposes: To Explore, To Discover, To Adventure. Anda kini dapat memilih di antaranya, atau sekaligus ketiganya untuk berkunjung. Sebab selain dua pulau ini, masih terdapat kota Bima yang ternyata memiliki kekuatan “ethnik” dan “budaya berkuda” yang spesifik. Belum dijamah dengan pendekatan bisnis pariwisata.

Setelah berkeliling, bertemu pelaku bisnis dan melihat data kinerja pariwisata, kepada Lalu Gita Ariyadi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB saya memberanikan diri menyampaikan kesan sementara: “Anda juga telah memiliki modal memadai untuk berhasil mendorong memajukan bisnis pariwisata daerah”.

Statistik sampai tahun 2008 memprihatinkan. Rata-rata tingkat penghunian kamar – TPK – hotel sepropinsi ini berada jauh di bawah 50%. Hotel bintang, tahun 2008 beroperasi dengan total 2.701 kamar, rata-rata TPK 33,20 %. Hotel Melati dengan total jumlah kamar 4.836 tahun lalu itu rata-rata TPK hanya 24,96 %. Berdasarkan ini masuk akal kalau LHA kemudian menyampaikan kesimpulan tadi kepada Gubernur NTB.

Gubernur kemudian mengkreasikan solusi di tingkat kebijakan. Dikiriminya berbagai kementerian di Jakarta surat dengan pesan, meminta agar menyelenggarakan, atau memindahkan, rencana rapat-rapat kerja ke Lombok. Setiap SKPD – Satuan Kerja Pemda, termasuk setiap dinas-dinas di tingkat I propinsi, “diperintahkan” agar bertindak ibarat  “salesmen” dengan menyurati dan meminta dinas-dinas di propinsi di luar NTB, agar   menyelenggarakan, atau memindahkan, rencana rapat-rapat kerja ke Lombok.

Setelah melewati bulan Maret 2009, menurut Lalu Gita Aria, yang diharapkan itu menjadi kenyataan. Berbagai meeting and convention dari berbagai daerah dilaksanakan di Lombok. Luar biasa, kata Lalu Gita, TPK hotel meningkat, terlebih lagi ditambah musim libur dan peak season wisman sejak Juni sampai Agustus, bisnis hotel khususnya dan bisnis pariwisata pada umumnya mengalami peningkatan.

“Rencana PHK karyawan tak jadi dilaksanakan”, ujar Lalu Gita.

Sebagai Light Star

Menjelang akhir tahun 2008, Diparda propinsi NTB alkissah suatu hari sedang rapat, mencari “apa yang perlu dilakukan”. Maklumlah, Gubernur sendiri menaruh harapan besar pada pariwisata NTB. Maka mengkristallah ide-ide “strategis” : gagasan mengadakan suatu event besar dengan persiapan yang memadai, event itu diproyeksikan menjadi Visit Lombok Sumbawa Year 2012.

Inventarisasi situasi yang akan bisa mendukung rencana itu, dihimpun. Bandara Internasional Lombok – BIL, akan mulai beroperasi tahun 2010. Investor besar dari Timur Tengah, Emaar Property akan membangun kawasan pantai Kuta, dengan mega investasi sekitar US$ 100 juta. Tahun 2010 krisis ekonomi global akan berlalu sehingga minat berwisata internasional akan tumbuh kembali mulai 2011. Tahun 2012 bukan merupakan tahun politik di dalam negeri Indonesia. Dan akhir Oktober 2009 akan dilaksanakan Pasar Wisata Internaional – TIME di Lombok, akan merupakan ajang mengenalkan lebih banyak Lombok Sumbawa kepada para pelaku bisnis pariwisata mancanegara, sebagai buyer. Tahun 2010 event ini akan diulang.

Staatistik yang tidak memprihatinkan datang dari data kunjungan wisman ke Lombok. Ternyata selama ini telah dikunjungi oleh wisman dari lebih 33 Negara, berdasarkan visitor arrival menurut kewarganegaraan. Per Negara jumlah terkecil tahun 2008 tercatat 1.638 orang ( Filipina ) dan jumlah terbanyak 25.618 orang (Australia). Total wisman tahun 2008 dicatat 213.926.

Niscayalah ini mencerminkan Lombok sebagai destinasi telah disadari – adanya awareness,  di sedemikian banyak negara. Dari sudut pemasaran, lokasi pasar yang telah dijangkaunya sudah sedemikian luas. Pertanyaan sebetulnya menjadi “bagaimana meningkatkan volume” ?

Ternyata pula, sebagian terbesar kunjungan wisatawan ke Lombok memasuki destinasi ini melalui laut, lebih 62 %, melalui udara sekitar 23 %. Tak ayal ini tentulah hasil promosi dan kegiatan tambahan bagi pariwisata di Bali, yang menyeberangkan para wisatawan menuju ke kawasan pantai Senggigi dan tiga pulau Giri, yang sudah “lama” digaungkan ke pasar mancanegara.

Nah, VLS 2012 yang “strategis” itu dilengkapi dengan target kuantitatip, yakni ingin mencapai jumlah satu juta wisatawan per tahun: separuh ditargetkan dari dalam negeri dan separuh dari mancanegara.

Tapi, tanpa menambah jumlah kemampuan akses dari laut maupun dari angkutan udara, maka tidak mungkin bisa dicapai. Daya tampung hotel teoritis masih mencukupi, mengingat TPK yang masih jauh berada di bawah 50%.

Disitulah tampak “upaya menuju target 1 juta” akan terkendala. Tapi yang membuat optimis ialah propinsi ini menyalakan satu Light Star, berupa VLS 2012, dan manajemen pariwisata di destinasi ini berbenah diri dan menata pranata serta kebijakan dan langkah antar instansi untuk menuju titik yang sama.

“High level coordination body”, begitu Lalu Gita menyebut peran dan posisi Diparda yang dipimpinnya. Dia melakukan pendekatan dan sinergi atau koordinasi dengan dinas-dinas lain di bawah kepemimpinan Gubernur NTB.

Depbudpar “kontan” menyatakan dukungan atas gagasan itu. Kemudian, Presiden RI pun resmi mencanangkan VLS 2012.

Mau tidak mau kita diberikan sebuah perbandingan. Berbagai event besar, termasuk program serupa yakni Tahun Kunjungan atau Visit Year yang dilaksanakan beberapa daerah di Indonesia, hampir semua disiapkan tanpa jadual “minus D-day program” yang mencukupi. Banyak yang diumumkan lalu dipersiapkan hanya beberapa bulan sebelum memasuki tahun yang dimaksud. Maka mau tidak mau harus diterima kenyataan, Visit Year di beberapa daerah tidak berhasil dilihat dari ukuran kegiatan pariwisata.

Akan berhasilkah VLS 2012 mencapai target 1 juta? ( Disambung pada Artikel berikutnya )

  1. Hai, Salam Kenal.
    Sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping, pembuatan dan penjualan tenda,
    Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
    silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
    email : tendakubandung@yahoo.com
    thx..

Leave a Reply

Your email address will not be published.